• Percaya Diri Pulih Kembali Wajahnya yang merot akibat Hemifacial Spasm (HFS) membuat mentalnya down.
  • Profil Pembimbing Seorang ahli bedah saraf memiliki tanggung jawab sangat besar "secara fisik yang saya bedah memang otak, tapi....
  • Hemifacial Spasme ? Gejala spasme separuh wajah yang tidak bisa dikendalikan dan terus menerus...
  • Welcome to HFS Sakit dan sehat adalah rahmat dan pasti ada hikmah dibalik episode kehidupan kita, Penderita yang ...
  • Profil Dokter HFS Kami memahami dengan baik kebutuhan pelayanan bedah saraf secara personal dengan fasilitas kedokteran yang canggih dan ...
  • Buletin HFS 6/2012 Telah diterbitkan buletin edisi ke-6 2012 Hemifacial Spasm Indonesia

Gejala spasme atau kejang spontan pada separuh wajah yang tidak bisa dikendalikan dan terus menerus secara bersamaan dari otot-otot wajah memang mengganggu. Tak jarang hal tersebut membuat penderitanya merasa malu bersosialisasi karena muka mereka tidak lagi simetris. Seiring majunya bidang kedokteran, saat ini gangguan yang disebut hemifacial spasm, dapat disembuhkan menggunakan teknik mikroskop khusus melalui microsurgery atau bedah saraf mikro.

“Jika penyebab Hemifacial Spasm-nya karena tekanan pembuluh darah mikro yang menekan saraf no. 7 pada otak, maka penyembuhannya bisa menggunakan teknik Microvaskuler Decompression,” ujar dr. M. Sofyanto, SpBS, Spesialis Bedah Syaraf dari RS. Husada Utama, Surabaya, saat ditemui di Twin Plaza Hotel, Jakarta, Sabtu ( 15/8 ).

Microvaskular Decompression adalah teknik operasi yang telah dikembangakn di Surabaya sejak 5 tahun lalu. Sebelum operasi, pasien akan dianestesi (dibius)untuk menghilangkan rasa sakit dan cemas pada pasien. Selain itu, anestesi juga berguna untuk mengatur dan mempertahankan otak agar tetap lunak dan tidak tegang. Dengan begitu mudah untuk menjangkau di kedalaman tertentu di bagian otak, khususnya saraf facial (muka) yang merupakan target operasi.

Sebelum anestesi, dilakukan pemeriksaan laboratorium, rekam jejak dan foto dada untuk mengetahui kondisi pasien. Pasien mesti puasa 8 jam, meski masih boleh minum air putih secukupnya.

Selama operasi, semua indikator fungsi tubuh pasien akan terus dipantau, melalui monitor pemantau. Dengan mikroskop khusus yang dapat menjangkau sampai kedalaman tertentu dalam rongga kepala dan alat-alat monitor dalam kamar operasi. “Setelah sedikit kepala dibuka, lalu dicari saraf no. 7 yang tertekan. Setelah ketemu saraf yang dimaksud, lalu dipisahkan menggunakan telfon yang berkaki,” terang Sofyan.

Setelah berhasil melepaskan saraf yang tertekan, kepala kembali ditutup, dijahit serta ditambah lem yang khusus bagi manusia. “Jadi tidak akan copot,” guraunya.

Segera setelah operasi selesai, pasien langsung dibangunkan. Selanjutnya pasien akan diobervasi di ruang intensif, karena operasi ini kadang menyisakan rasa pusing dan atau mual.

Menurut Sofyan, setelah melakukan operasi, pasien akan terbebas dari penyakit muka menceng. Namun tidak menutup kemungkinan penyakit tersebut kembali, dan pasien harus menjalani operasi ulang. “Tapi itu sangat jarang,” ujarnya. Untuk menjalani operasi ini, pasien harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 30.000.000

Risiko Kecil

Walau sebagian kecil tempurung kepala harus dibuka, Sofyan menjamin tindakan tersebut hanya berisiko kecil. Sehari pascaoperasi, infus dan obat-obatan akan dihentikan. “Bahkan ada beberapa pasien yang sudah dapat pulang keesokan harinya,” kata dia.

Setelah melewati masa pemulihan, lanjutnya, pasien dapat beraktivitas seperti biasa. Mereka tidak perlu khawatir telfon yang tertanam di kepala akan bergeser. Pasalnya teflon tersebut mempunyai “kaki” dan akan terus menempel.

Meski berisiko kecil, kemungkinan pasien untuk mengalami efek samping masih ada. Selain nyeri, mual dan muntah akibat pengaruh obat-obatan dapat terjadi. Pasien juga dianjurkan untuk melakukan mobilisasi secara bertahap dengan melakukan gerakan ringan. “Biasanya memang ada lelah, kalau ada keluhan yang masih dirasakan harus segera menghubungi dokter,” tukas dia. (Kompas.com, Sabtu, 15 Agustus 2009 | 17:32 WIB )

New Member

Maria Sri Warni

maria-sri-warni-hfs

Nama             : Mari Sri Warni

Asal / Umur    : Surabaya / 66

Lama  Sakit    : 5 Tahun

Sisi Wajah      : Kiri

STORY

Setelah 18 Tahun, Baru Kutemukan Jalan Keluarnya

Eliya : saya mengalami kedutan sudah lama, sekitar sejak tahun 95, sudah 18 tahun – an. Awalnya hanya kedutan sedikit dan jarang – jarang di ujung mata kanan saya, semakin lama intensitasnya semakin tinggi dan itu yang saya alami sampai sebelum operasi 7 Mei 2013 kemarin.

Hal yang paling di ingat oleh Eliya (62) saat masih hidup berteman dengan spasme di wajahnya adalah suntik botox yang di lakukannya pada bulan Oktober 2012 kemarin. “saya pernah suntik botox sekali pada bulan sepuluh ketika anak saya selesai kuliah, saya pergi jakarta untuk botox”, kata Eliya saat ditanyai riwayat pengobatannya selama menderita spasme.

Read more...

Affiliation

  • Komunitas Cervical Indonesia
  • Comprehensive Brain & Spine
  • Komunitas Trigeminal Neuralgia Indonesia
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
129
Tampilan bagus, isi bagus.
2
96
Tampilan bagus, isi kurang.
3
68
Tampilan kurang, isi kurang.
4
50
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

 peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

“The Soerabaja”, Games Souvenir Khas Surabaya Bikinan Mahasiswa Ubaya


sovenir-thesoerabaja 
 

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya.

Read more...

Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula


surabaya                    


Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan  aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...