Articles

   Copy of Copy of IMG 2828       P1010157 Bu Aming

   Suasana Operasi Microvascular Decompression                        Sebelum                 Sesudah


Muka perot (peyot) sebelah, atau istilah medisnya Hemifacial Spasm (HFS), selama ini kerap ditangani ala kadarnya. Ia dianggap bagian dari stress dan tak bisa disembuhkan. Ternyata bedah mikro bisa menyembuhkannya. Di sini, tak perlu ke luar negeri.

BEDAH MIKRO

 Penulis : Gandhi Wasono M., di Surabaya

Lie A Ming (57), perempuan pengusaha asal “kota tahu” Kediri, Jawa Timur, mengenang deritanya tahun 1987. Ia tiba-tiba sering kedutan, mata kirinya mengedip-kedip tanpa disengaja. “Bagi orang yang tidak tahu mungkin dikira saya main mata dengan lawan bicara,” ia bercanda. Hatinya baru resah ketika kedipan itu diikuti otot pipi kiri terasa kencang karena tertarik ke belakang. Jika stress, tarikan makin kuat. Begitu pun saat lelah atau kena terpaan angin.

Waktu terus berjalan. Selain pipi, ujung bibir sisi kirinya pun tertarik. “Kalau bercermin rasanya mau nangis. Wajah saya dulu cantik kok bisa merot tidak keruan,” ucap istri dari Mochtar (62) ini. Ibu dua putra yang di kotanya dikenal dermawan itu ke dokter saraf di Surabaya. Ia didiagnosis stress, dan stress itu berpengaruh pada saraf-saraf yang mengendalikan bagian wajahnya. Dokter member obat, memintanya mengendalikan emosi.

Tapi, ketika semua anjuran diikuti dan obat sudah habis diminum, A Ming tak kunjung pulih seperti sediakala. “Saya makin stress. Wajah saya makin tidak keruan.” Ia lantas mendatangi hampir semua dokter saraf di Surabaya dan Jakarta. Semua menghasilkan diagnosis sama : stress. A Ming juga berangkat ke Singapura. Namun pemeriksaan yang canggih oleh dokter ternama di Negeri Singa pun menghasilkan diagnosis sejenis : stress. 

Ia pindah dokter lagi. Ada satu dokter yang memberinya suntikan botox (botulinum toxin) di pipi. Saraf di sekitar pipi dimatikan sehingga ototnya tak bisa tertarik ke belakang. Meski agak mati rasa, wajahnya pulih. Tapi setelah 3-4 bulan, saat reaksi obat mulai habis, mukanya perot lagi. 

               Kapok dengan pengobatan medis, A Ming mulai menempuh jalur alternative. Ia menemui ahli akupuntur asal Cina yang kebetulan sedang ke Surabaya. Meski sudah dicoblos puluhan jarum, hasilnya tetap nol besar. A Ming pun mendatangi praktik ahli pijat saraf di Batu, Malang. Menurut sang terapis, dengan pijatan sekitar 10 kali A Ming akan sembuh. Tapi, sudah 14 kali pijat, dan selalu menahan sakit setiap kali dipijat, ia tak sembuh juga. “Saya frustasi.” Ia hanya bisa berdo’a.

 

Menangis di depan cermin

 Doa yang dipanjatkan A Ming dikabulkan Tuhan. Ia bertemu maudy Meliana, teman senasib yang juga asal Kediri. Tak separah dirinya, Meliana “baru” menderita sekitar tujuh tahun. Dari media Meliana mengetahui ada seorang dokter di RS. Husada Utama (RSHU) Surabaya yang bisa menyembuhkan penyakitnya.

A Ming yang semula menolak dioperasi, terkejut saat melihat wajah Meliana kembali normal setelah operasi. Atas dorongan Meliana dia menemui dr. Mohammad Sofyanto, Sp.BS di RSHU. Dengan dukungan keluarga dan teman-teman, ia memberanikan diri menjalani operasi. “Saya tidak ingat tiba-tiba operasi sudah selesai dan saya sudah berada di dalam ruangan,” paparnya.

            Setelah sadar dari operasi ia merasakan pipi, bibir, dan lehernya tidak lagi kaku akibat tarikan otot. Matanya juga tidak berkedip-kedip lagi. Beberapa jam berikut dia diperbolehkan berdiri dan berjalan menuju cermin. “Saya nyaris tidak percaya. Wajah saya kembali normal. Tanpa terasa saya menangis di depan cermin.”

 

Saraf yang tergencet

Menurut dr. Mohammad Sofyanto, Sp.BS (44) dari RS. Husada Utama (RSHU) Surabaya, A Ming mengidap Hemifacial Spasm (HFS) atau kejang separuh wajah, akibat terganggunya saraf nomor tujuh yang dalam system anatomi tubuh manusia berfungsi sebagai pengendali gerak otot wajah.

 Sofyanto menjelaskan, pada prinsipnya setiap tubuh manusia dikendalikan oleh 12 saraf. Saraf berpusat di otak, kemudian turun melintas di sekitar batang otak sebelum ke tempatnya masing-masing. Misalnya, saraf nomor satu berfungsi untuk penciuman, nomor dua untuk penglihatan, nomor lima sensor wajah atau indra perasa wajah, nomor tujuh saraf penggerak otot-otot wajah atau saraf fasialis, nomor delapan pendengaran, dll. “Kalau terjadi gangguan pada salah satu saraf maka akan terganggu pula fungsi utamanya,” kata Sofyanto.

 Dalam kasus HFS, saraf nomor tujuh mengalami gangguan. Masing-masing saraf sebenarnya ada dua, untuk mengatur bagian wajah sebelah kanan dan sebelah kiri. Tapi dalam literature, yang tergencet atau tersenggol selalu cuma salah satu, tidak pernah ditemukan kasus keduanya mengalami masalah. HFS terjadi ketika saraf nomor tujuh yang tebalnya sekitar 3 mm tersebut pada saat melintas di batang otak bergeseran dengan salah satu pembuluh darah yang memang bercabang-cabang saling berseliweran.

 Tak hanya bergeser letaknya, saraf kadang tergencet dan tergesek pembuluh darah yang berkembang-kempis mengikuti denyut jantung. Saraf yang permukaannya sangat lembut tersebut bisa terluka atau mengalami trauma. “Akibatnya, fungsi saraf menjadi tidak normal. Ketika penderita stress atau capek, denyut pembuluh darah makin cepat sehingga kejang di wajahnya semakin parah,” imbuh Sofyanto.

 Awalnya, akibat yang ditimbulkan tidak seberapa. Tapi dalam waktu lama, trauma yang ditimbulkan oleh gesekan makin akut. Yang terjadi pada Lie A Ming, kata Sofyanto, kondisi sarafnya sudah sangat bahaya akibat gencetan dan gesekan selama hampir 25 tahun. Saraf sudah menipis, warnanya pun putih pucat. “Bu A Ming beruntung sekali bisa kembali seperti sediakala. Saya saja ngeri. Setelah berhasil saya pisahkan, saraf itu saya elus-elus dengan hati-hati sekali,”

 Saraf dan pembuluh darah yang sudah menempel sulit melepaskan diri, menurut Sofyanto, itu karena terjadinya radang mikro akibat gesekan. Radang mengakibatkan perlengketan antara keduanya. “Satu-satunya jalan hanya operasi. Obat tidak akan bisa memisahkan keduanya.”

 Pada 2003 Sofyanto melakukan operasi pada penderita sakit gangguan nyeri wajah berkepanjangan karena saraf nomor lima tergencet pembuluh darah di batang otak. Selain melihat saraf nomor lima, dia juga melihat saraf nomor tujuh yang letaknya berdekatan. Maka ketika di waktu lain ada pasien dengan keluhan wajah kejang separuh yang tak lain HFS, ia teringat pada kasus tahun 2003. Ia mengoperasi pasien itu dan memperbaiki saraf nomor tujuh, dan berhasil.

 Tapi Sofyanto tak bisa memutuskan tindakan operasi tanpa didahului analisis melalui MRI. Ia bahkan membeli software khusus yang mampu membuka hasil MRI lebih rinci serta merekonstruksi isi kepala pasien dalam bentuk tiga dimensi melalui data gambar. “MRI hanya bisa dilihat dalam bentuk film yang jumlahnya sangat terbatas. Tapi dengan software ini gambar bisa sangat detil. Kalau dicetak bisa 800 sampai 1.000 foto,” papar alumnus Universitas Airlangga, Surabaya ini.

 Dari internet Sofyanto mendapatkan sejarah penemuan HFS oleh Petter Jannetta di AS pada 1965. “Saya berkirim email dengan Jannetta, juga membeli buku-buku tentang HFS karangan dia.” Ternyata jannetta juga tidak sengaja menemukan penyembuhan HFS. Sama dengan dirinya, semula Jannetta mengoperasi saraf nomor lima. Tapi kemudian menemukan saraf nomor tujuh. Sayang, perkembangan terapi penyakit ini tidak pesat, karena perkembangan teknologi mikro penunjangnya pun tidak pesat.

 Penyakit ini diidap oleh delapan per satu juta orang. Kalau dihitung dalam 20 tahun terakhir ada sekitar 32.000 orang Indonesia terkena HFS. Tapi karena keterbatasan informasi, banyak orang belum mengetahui cara penyembuhannya.

 Sofyanto juga menimba ilmu pada Prof. Yoshio Suzuki di Nagoya, Jepang. Dokter ahli bedah saraf ternama di Jepang itu saban hari mengajaknya secara langsung terlibat operasi. Selain meningkatkan keterampilan, Sofyanto juga diajari mengurangi dampak lain akibat operasi itu.

 Mengenai Suzuki, Sofyan tak bisa melupakan ketulusannya yang luar biasa dalam mengabdi pada ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. “Meski jam dua dini hari, kalau ada sesuatu yang harus dia lakukan di emja operasi, dia akan datang tepat waktu. Makanya saya menangis ketika dia meninggal tahun 2007 lalu,” puji Sofyanto pada guru yang beberapa kali datang ke RSHU untuk melakukan operasi bersama.

 Dengan makin majunya skill dan teknologi, keberhasilan operasi ini mencapai 95%. Kalau di Jepang 97%. “Alhamdulillah, sekitar 50 pasien yang saya tangani semua berhasil dengan baik,” ujar suami dr. Nunuk Yulia Arsiyanti ini.

 Omong-omong, kenapa HFS lebih banyak terjadi pada perempuan, bahkan angkanya sampai dua kali lipat? “Kita belum tahu sebabnya. Dalam penelitian saya tidak ditemukan mengapa sampai seperti itu.”

 Selain faktor pergesekan, HFS bisa juga terjadi karena kelainan anatomis alias bawaan sejak lahir. Dalam beberapa kasus, pembuluh darah di batang otak yang lebarnya 2 – 4 mm itu kelebihan panjang sehingga sampai bersenggolan dengan berbagai organ penting lainnya. Akibatnya tergantung organ yang disenggol.

 Penyebab ketiga, lanjut Sofyanto, terjadi pegeseran letak saraf yang diakibatkan oleh mengecilnya volume otak akibat pertambahan usia. Karena otak mengecil, maka posisi saraf berubah hingga menyenggol pembuluh darah di sekitarnya. “Makanya, sebagian besar orang yang terkena HFS berusia di atas 40 tahun. Di usia tersebut otak manusia secara alami mulai mengecil. Tapi ini tidak mutlak. Dalam kasus-kasus tertentu ada remaja yang juga mengidap HFS.”

 

Dalam areal selebar 8 mm saja

Karena tidak bisa mengharapkan saraf dan pembuluh darah pisah sendiri, maka harus “diceraikan” melalui pembedahan mikro. Operasi dimulai dengan mengebor batok kepala pasien, persis di bagian belakang telinganya, hingga membentuk lubang selebar 1,2 cm. bor canggih itu otomatis berhenti ketika ujung matanya menyentuh permukaan otak kecil pasien.

 Setelah otak kecil terlihat, dokter akan mengempeskannya. Dengan coblosan kecil, sekitar 100 ml cairan yang melingkupi organ vital sebesar kepalan tangan bayi tersebut disedot ke luar. Setelah kemps, otak yang terbungkus dalam selaput tipis disibakkan perlahan-lahan hingga saraf nomor tujuh terlihat jelas. Karena pekerjaan ini dilakukan melalui lubang selebar 1,2 cm, dan areal kerja yang lebarnya Cuma 8 mm, harus diperbesar dengan mikroskop.

 Ukuran alat dan pergerakkan hanya dalam kisaran millimeter. Makanya, sebelum tindakan, dokter harus memastikan letak masalah melalui pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI).

 Saraf nomor tujuh juga berdekatan dengan saraf nomor delapan yang mengatur pendengaran. Jika operasi sampai melukai saraf itu, bisa dipastikan pasien akan mengalami gangguan pendengaran bahkan bisa tuli. “Itulah seni dan tangannya. Dibutuhkan ketelitian, kehati-hatian, juga keterampilan,” ujar Sofyanto yang setiap operasi selalu menyertakan dr. Gigih Pramono, Sp.BS.

Setelah saraf dan pembuluh darah dipisahkan, di antara keduanya disisipkan serabut Teflon lembut dan dilem agar tidak berubah posisi. “Serabut Teflon maupun lem tak akan menimbulkan efek. Bahan-bahan itu sudah berstandard internasional,” Sofyanto meyakinkan. Kemudian wilayah tersebut ditutup kembali. Otak yang semula kemps dimasuki cairan hingga menggelembung kembali. Lubang bekas bor ditutup lagi dengan debu sisa tulang batok kepala.

 Yang menarik, semua kegiatan operasi itu direkam. Lensa mikroskop juga berfungsi sebagai lensa kamera. Video rekaman diserahkan kepada keluarga pasien. Operasi juga bisa dilihat keluarga pasien melalui layar televisi. “Biar keluarga tahu apa yang kami lakukan.”

 Sekitar 5% dari jumlah pasien mengalami gangguan telinga berdengung setelah operasi. Sofyanto memastikan, “Tidak apa-apa, paling seminggu sudah normal.” Itu disebabkan saat memisahkan saraf nomor tujuh sempat terjadi sedikit gesekan dengan saraf nomor delapan, sehingga pendengaran sedikit terganggu.

 

Sumber : Intisari 2009

Affiliation

  • Komunitas Trigeminal Neuralgia Indonesia
  • Comprehensive Brain & Spine
  • Komunitas Cervical Indonesia
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
91
Tampilan bagus, isi bagus.
2
71
Tampilan bagus, isi kurang.
3
47
Tampilan kurang, isi kurang.
4
37
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

 peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

“The Soerabaja”, Games Souvenir Khas Surabaya Bikinan Mahasiswa Ubaya


sovenir-thesoerabaja 
 

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya.

Read more...

Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula


surabaya                    


Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan  aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...