Atasi Sakitnya Spondylosis Cervical dengan Operasi Saraf di Surabaya

Bagi sebagian orang, spondylosis cervical tentu tak popular. Orang awam justru lebih kenal dengan istilah leher kecetit. Gangguan kesehatan yang juga popular dengan nama spondylosis leher ini, ditandai dengan gejala awal yang ringan. Penderita awalnya hanya merasa kesemutan, namun jika dibiarkan akan berakhir pada kelumpuhan.

Ini terungkap dalam bahasan tentang spondylosis cervical, hemifacial spasm (muka perot), trigeminal neuralgia (wajah seperti kesetrum) di Grand Ballroom Hotel Gran Senyiur Balikpapan, kemarin. Brain & Spine Community yang menjadi penyelenggara acara bertiket masuk gratis ini, meghadirkan dr. M. Sofyanto Sp.BS, spesialis bedah saraf dari RS Bedah Surabaya. Sederet nama beken juga muncul sebagai pembicara, salah satunya dr. Achmad Zuhro Ma’ruf Sp.BS dari Balikpapan dan pengusaha kondang Kaltim Jos Soetomo punya pengalaman menyakitkan bersama spondylosis cervical.

Ya, dia pernah menderita kondisi tersebut, dan merasakan sakitnya selama 10 tahun. “Saya selama 10 tahun seperti mayat hidup. Saya bilang mau operasi cervical di Surabaya akhir 2011 lalu, namun keluarga saya melarang. Mereka takut saya malah lumpuh,” cerita Jos Soetomo, saat diberikan kesempatan menceritakan kisahnya mengatasi spondylosis cervical.

Namun, setelah berpikir – piker dan memantapkan hati, akhirnya Jos Soetomo tetap bertekad menempuh operasi di Surabaya. Saat itu, ia berkeyakinan RS. Bedah Surabayasudah memiliki tekhnologi yang mumpuni.

“Saya yakin, Indonesia sudah bisa mengimbangi, terutama di Surabaya,” katanya.

Ternyata, pilihan Jos Soetomo tak salah. Bahkan setelah dioperasi akhir 2011 silam, tak hanya deritanya hilang seketika, usai operasi, besoknya dia sudah bisa beraktivitas.

“Right or Wrong, this is my country. Saya yakin, negeri kita tak kalah jauh dari Singapura. Terutama dari segi medis. Oleh  karena itu, enggak perlu jauh – jauh ke Singapura untuk berobat,” ujarnya memotivasi peserta gathering.

Dr. M. Sofyanto Sp. BS membenarkan derita yang pernah selama 10 tahun “dinikmati” Jos Soetomo, sebagai dampak spondylosis cervical.

Dia memaparkan, gangguan kesehatan tersebut dapat terjadi akibat sumsum leher terjepit bantalan sendi leher yang lepas.atau dapat terjadi karena tertekan oleh pengapuran.penderitaannya dapat mengalami gejala ringan, samapi keluhan yang semakin berat berupa nyeri leher, berlanjut ke bahu, belikat, tangan dan jari.

“Bahkan yang parahnya lagi, penerita gangguan kesehatan ini tak mampu menulis dan tidak mampu memegang gelas, selalu jatuh. Jika dibiarkan berlanjut, menjadi gangguan buang air, tidak bisa menahan air seni hingga gangguan seksual,” paparnya.

Kendati operasi menjadi solusi tercepat, Sofyanto menyebutkan tidak semua penderita spondylosis cervical memerlukan operasi pembedahan.

Kendati demikian, dia menjamin, operasi untuk menyelesaikan masalah spondylosis cervical sudah sangat maju tekhnologinya. Saat ini sudah menggunakan teknik operasi bedah mikro (microsurgery). Operasi ini hanya membutuhkan bukaan selebar 3 cm di leher.

“Itupun untuk menutupnya kembali tidak memerlukan jahitan di leher pasien,” imbuh Sofyanto.

Dengan bantuan mikroskop khusus dan alat – alat monitoring di kamar operasi, semua tindakan dapat disaksikan langsung pada monitor televisi pada di ruang tunggu operasi oleh keluarga penderita, sembari berdiskusi dengan sang dokter.

Dalam operasi yang dikenal dengan nama dicoplasty atau cervical disc replacement ini, sendi leher yang rusak dapat diganti baru dengan bahan titanium dan batu zirconium.

“Selain mampu bergerak seperti aslinya, sendi baru ini juga dapat bertahan seumur hidup,”ucapny.

Setelah operasi, pasien juga sudah diperbolehkan mencoba berdiri, dan tentunya memang diyakini bisa berdiri tanpa efek samping operasi tersebut. Bahkan sudah diizinkan pulang keesokan harinya (program one day stand up, next day go home).

Syaratnya hanyalah, pasien tak lagi ada rasa nyeri atau gangguan saat menggerakkan leher tanpa penyangga, serta melakukan kegiatan sehari -  hari secara normal.

Seperti diketahui, seminar ini digelar oleh Brain and Spine Community (BSC). Tujuannya, edukasi pada masyarakat terhadap gejala spndylosis cervical, hemifacial spasm (muka perot) dan trigeminal neuralgia (wajah seperti kesetrum).

Dr. Lilih Dwi Priyanto, Ketua BSC mengatakan, masyarakat perlu memahami pentingnya mengenal berbagai gejala ringan yang dialami oleh tubuh. “Sehingga masyarakat tidak mengabaikan gejala ringan yang terjadi. Jangan sampai sudah fatal baru ke rumah sakit,” ucapnya. (*/rkp/che2/k5)

 

Affiliation

  • Comprehensive Brain & Spine
  • Komunitas Cervical Indonesia
  • Komunitas Trigeminal Neuralgia Indonesia
Previous Next

Polling

New Website

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan baru website ini?

1
92
Tampilan bagus, isi bagus.
2
71
Tampilan bagus, isi kurang.
3
47
Tampilan kurang, isi kurang.
4
37
Tampilan kurang, isi bagus.
5 Votes left

Surabaya Corner

 peta-surabaya

Surabaya atau lebih dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan pertempuran heroik nya yang terjadi di tahun 1945 antara Pejuang-pejuang Arek-Arek Suroboyo melawan tentara Inggris.

Read more...

“The Soerabaja”, Games Souvenir Khas Surabaya Bikinan Mahasiswa Ubaya


sovenir-thesoerabaja 
 

Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ternyata belum memiliki souvenir yang benar – benar khas Surabaya.

Read more...

Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda Sampai Fasilitas Manula


surabaya                    


Kota Surabaya saat ini tidak hanya dikenal dengan kebersihan dan kerapiannya saja tapi juga dikenal memiliki puluhan taman indah yang tersebar di berbagai penjuru kota. Taman yang lengkap dengan  aneka bunga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tapi sekaligus menjadi tempat wisata bagi warga.

Read more...